![]() |
| seorang dukun dikelilingi makhluk ghoib (ilustrasi) |
Aku tumbuh dikelilingi aroma kemenyan, suara mantra yang dilantunkan tengah malam, dan kisah-kisah menyeramkan yang bukan hanya didengar, tapi juga dilihat langsung. Di desa ini, tak ada yang namanya “kebetulan”. Kalau seekor ayam mati mendadak, pasti ada yang mengirim santet. Kalau seorang perempuan tiba-tiba gila, pasti ada roh leluhur yang masuk ke tubuhnya.
Suasana Desa yang Tak Pernah Sepi dari Gaib
Desa Panggong dikelilingi hutan lebat yang selalu berkabut. Bahkan di siang bolong, kabut tipis sering menggantung rendah di antara pepohonan. Suara burung malam dan serangga seperti tak kenal waktu. Jalan tanah yang menghubungkan antar rumah hanya setapak sempit yang kalau hujan akan berubah menjadi lumpur dalam.
Rumah-rumah di sini terbuat dari kayu ulin tua, berdiri di atas tiang, beratap sirap, dan dikelilingi pekarangan luas yang ditumbuhi tanaman perdu. Di sudut-sudut rumah, hampir selalu ada altar kecil tempat sesajen diletakkan setiap malam Jumat. Lilin menyala, kembang tujuh rupa, dan kadang darah ayam kampung—semua itu adalah persembahan untuk para penjaga desa, yang dipercaya bukan manusia.
Yang paling membuat bulu kuduk merinding adalah ketika malam turun. Setelah jam 8 malam, hampir semua rumah menutup pintu rapat. Lampu dimatikan. Tak ada yang keluar rumah kecuali mereka yang "punya urusan", entah dengan dukun atau roh halus. Di saat-saat seperti itu, kau bisa mendengar suara-suara aneh dari hutan: rintihan, jeritan jauh yang menggema, dan kadang langkah kaki di atap rumah.
Dan ya, aku pernah melihat sesuatu—bukan sekali, tapi berkali-kali.
Pengalaman
Pertama Melihat Penampakan
Aku
masih berusia delapan tahun saat pertama kali melihat sesuatu yang tak bisa
dijelaskan dengan logika. Waktu itu malam Jumat Kliwon—malam yang dipercaya
warga desa sebagai saat di mana batas antara dunia manusia dan makhluk halus
menjadi paling tipis.
Aku tidur di ruang tengah bersama nenek. Lampu pelita temaram menggantung di sudut ruangan, dan suara tokek dari dinding kayu bersahut-sahutan. Aku terbangun karena mendengar suara langkah kaki pelan, seolah ada seseorang berjalan mondar-mandir di depan rumah. Tadinya kupikir itu paman. Tapi langkah itu terlalu pelan, terlalu berat, seperti kaki yang diseret.
Aku memberanikan diri mengintip dari jendela yang sedikit terbuka. Dan di sanalah aku melihatnya—sesosok perempuan tinggi kurus, mengenakan kain putih lusuh yang kotor seperti habis digulingkan di lumpur. Rambutnya panjang terurai, menutupi wajah. Ia berdiri diam, mematung tepat di depan pohon nangka yang tumbuh di halaman.
Aku terpaku. Nafasku tercekat. Tapi tubuhku tak bisa bergerak. Perempuan itu mengangkat kepalanya perlahan, menoleh ke arah jendela. Wajahnya… kosong, pucat seperti tanpa warna, dan matanya hitam penuh. Ia tersenyum—senyum lebar yang membuat seluruh tubuhku menggigil.
Aku berteriak. Nenek langsung terbangun, memelukku dan berulang kali membisikkan doa. Esok harinya, nenek berkata bahwa itu "penunggu pohon" yang kadang menampakkan diri kalau ada anak kecil yang "terpilih".
Terpilih? Aku tak paham maksudnya. Tapi sejak malam itu, aku tahu, hidupku di desa ini tidak akan pernah lepas dari dunia yang tak terlihat.
Perdukunan, Santet, dan Keluarga Kami
Di
desa Panggong, tidak semua dukun berbuat jahat. Ada dua jenis yang dikenal
masyarakat: dukun putih dan dukun hitam. Dukun putih biasanya dimintai tolong
untuk mengobati orang sakit, mengusir roh jahat, atau menjaga kebun dari
gangguan gaib. Tapi dukun hitam… mereka yang disewa untuk mencelakai orang.
Pamanku, adik ibu, adalah seorang dukun. Ia termasuk yang putih, katanya. Tapi aku tahu, ia juga bisa melakukan sebaliknya jika diminta dan dibayar mahal. Ia sering memandikan keris, membaca rajah dari daun lontar, dan sesekali menyembelih ayam hitam di belakang rumah saat bulan purnama.
Aku pernah melihat langsung seorang tetangga kerasukan, tubuhnya membiru dan lidahnya terjulur panjang. Pamanku menanganinya. Ia membakar kemenyan, menaburkan garam dan bunga di sekeliling pasien, lalu mulai membacakan mantra dalam bahasa yang tak kupahami. Setelah hampir dua jam, tubuh perempuan itu akhirnya tenang, tapi matanya tetap kosong seperti tak ada jiwa di dalamnya.
Orang bilang, roh jahat itu tidak sepenuhnya pergi—ia hanya berpindah ke pohon besar di dekat rumah.
Penampakan yang Menghantui Tidurku
Semakin
aku tumbuh, semakin banyak yang kulihat. Sosok-sosok yang berjalan di belakang
pohon, bayangan tinggi menjulur dari hutan ke halaman, atau suara tawa
perempuan dari kamar mandi saat tak ada orang di sana.
Pernah suatu malam, aku pulang dari acara pemakaman warga desa yang meninggal karena "dikirimkan ilmu". Di perjalanan pulang, aku melewati jalan setapak yang sepi. Gelap. Hanya lampu senter kecil yang menyorot tanah di depanku. Dan tiba-tiba, di tengah jalan, berdiri sosok anak kecil. Ia berdiri menunduk, rambutnya menutupi wajah, mengenakan baju tidur putih.
Kupikir itu anak tetangga, tapi tubuhnya tidak menyentuh tanah.
Aku membeku. Aku mundur perlahan. Tapi sebelum aku bisa berbalik, anak itu mengangkat kepalanya dan suaranya mengerang, bukan seperti anak kecil, tapi seperti suara tua dari perut bumi. “Pulangkan...”
Aku berlari sekuat tenaga tanpa menoleh.
Upacara Leluhur dan Kutukan Keturunan
Setiap
tahun, desa kami mengadakan upacara besar bernama “Bakayun”. Upacara ini
dilakukan untuk menghormati arwah leluhur dan menolak bala. Biasanya, warga
akan membawa persembahan berupa makanan, bunga, dan hewan kurban ke pinggir
sungai. Di sanalah para tetua kampung memanggil roh-roh penjaga desa.
Ada satu cerita menyeramkan tentang keluarga yang tidak ikut upacara karena dianggap “sudah modern”. Dalam sebulan, tiga anggota keluarganya meninggal secara misterius. Yang satu demam tinggi dan mendadak buta, yang lain tiba-tiba tenggelam di kolam sempit, dan satu lagi mati tergantung di kamar padahal tak ada kursi atau tali di sana sebelumnya.
Sejak kejadian itu, tak ada lagi yang berani melewatkan upacara leluhur. Entah percaya atau tidak, di desa ini ada yang bilang: “kalau kau tidak menghormati yang lama, maka yang lama akan mencarimu.”
Malam Ketika Jin Penunggu Datang
Salah
satu pengalaman paling menyeramkan yang tak pernah bisa kulupakan terjadi saat
aku berusia 16 tahun. Malam itu ada suara gong kecil yang dipukul dari arah
balai adat. Itu pertanda ada warga yang kerasukan dan meminta bantuan tetua
desa. Aku ikut ke sana bersama pamanku, penasaran ingin tahu lebih banyak soal
dunia yang selama ini hanya kulihat dari balik jendela.
Di balai adat yang remang-remang, seorang lelaki kurus dengan tubuh penuh luka duduk bersila. Ia menggigil, tapi bukan karena dingin. Matanya merah seperti terbakar, dan tubuhnya tiba-tiba terangkat sedikit dari lantai, tanpa ditopang apa pun. Bau kemenyan sangat menyengat, bercampur bau anyir darah ayam yang baru saja disembelih sebagai persembahan.
Pamanku melantunkan mantra, dan lelaki itu mulai berbicara dengan suara yang dalam dan menggelegar, bukan suara manusia biasa. “Tanah ini bukan milik kalian. Kami sudah lama menjaga hutan ini. Tapi kalian terus menebang, mengotori sungai, dan melupakan kami.”
Ternyata, itu suara jin penjaga hutan yang marah karena beberapa warga mulai menjual lahan ke perusahaan sawit. Ia menuntut persembahan khusus—bukan ayam, bukan babi, tapi darah manusia dari garis pelanggar.
Malam itu, ritual penebusan dilakukan. Seorang tetua kampung memotong ujung jarinya, darahnya ditampung dan dilempar ke sungai. Ritual seperti itu, yang mungkin terdengar gila bagi orang kota, adalah bagian dari kehidupan di desa kami.
Kisah Pohon Tua dan Kutukan Bayi Menangis
Ada
sebuah pohon besar di dekat rumah nenek—pohon kapur tua yang dikenal sebagai
tempat “bersemayamnya anak-anak halus.” Setiap malam Jumat, hampir pasti
terdengar suara bayi menangis dari arah pohon itu. Tapi kalau dicari, tak ada
siapa-siapa. Suara itu kadang disusul bau busuk seperti bangkai, atau angin
dingin yang berhembus tanpa sebab.
Suatu ketika, seorang pemuda baru dari luar desa—menantu salah satu warga—nekat menebang pohon itu karena dianggap menghalangi jalan. Ia mengabaikan peringatan warga dan tertawa sinis saat disebut “tak sopan pada penunggu.”
Dua hari kemudian, anaknya yang masih bayi tiba-tiba demam tinggi, menangis sepanjang malam tanpa bisa ditenangkan. Matanya kosong. Mulutnya komat-kamit. Dokter dari kota tidak bisa menemukan penyakit apa pun.
Pamanku dipanggil. Ia hanya berkata, “Penunggu itu mengambil roh anak ini sebagai pengganti rumahnya yang ditebang.”
Butuh tujuh hari tujuh malam, dengan ritual penuh darah dan mantra, untuk menyelamatkan anak itu. Setelah pohon yang tumbang diberi sesajen dan didirikan ulang sebuah tugu kecil, barulah si bayi kembali normal.
Pilihan: Bertahan atau Pergi
Hidup
di desa seperti Panggong tidak mudah. Setiap hari harus hidup berdampingan
dengan sesuatu yang tak terlihat. Tak ada keputusan yang bisa diambil
sembarangan, karena segalanya bisa berdampak pada hubungan dengan makhluk gaib.
Orang-orang harus tahu hari baik untuk menanam, hari buruk untuk bepergian,
bahkan waktu tertentu yang pantang melahirkan anak.
Aku pernah sakit keras saat usia dua puluh. Badan panas tinggi, tapi dokter mengatakan tidak ada infeksi atau tanda medis apa pun. Ibuku akhirnya membawa aku ke seorang dukun tua yang tinggal di tepi sungai. Di sana, ia mengusap tubuhku dengan daun sirih dan membakar kain putih bekas pakaian yang tak sengaja kubakar minggu sebelumnya—rupanya kain itu, menurut sang dukun, berisi “penjaga” dari nenekku yang dulu, dan aku telah menyinggungnya.
Sejak kejadian itu, aku mulai berpikir: sampai kapan aku hidup seperti ini?
Akhirnya, dengan berat hati, aku memutuskan untuk pergi dari desa. Bukan karena benci, tapi karena aku tak sanggup lagi hidup dalam ketakutan. Aku ingin melihat dunia lain—dunia yang tidak selalu diwarnai rasa was-was karena suara dari balik pohon atau langkah kaki yang tak punya bayangan.
Setelah Pergi, Namun Tak Pernah Lupa
Meski
aku kini tinggal di kota, jauh dari hutan dan pohon besar, bayangan masa
kecilku di Desa Panggong tidak pernah benar-benar hilang. Setiap kali aku
menyalakan dupa atau mencium bau tanah basah, ingatanku kembali pada
suara-suara gaib dari balik jendela, atau perempuan berjubah putih yang pernah
menatapku dalam diam.
Aku masih sering bermimpi berjalan di jalanan desa yang berkabut, dan bertemu nenekku di ambang pintu rumah kayu. Kadang, dalam mimpiku, aku mendengar suara perempuan berbisik, “Kau tak pernah benar-benar pergi…”
Mungkin benar kata orang tua di kampung: “Sekali kau menjadi bagian dari dunia gaib, kau tak akan pernah benar-benar bebas.”
Desa yang Tak Bisa Dilupakan
Desa
Panggong bukan tempat biasa. Ia bukan sekadar kampung halaman, tapi juga
gerbang antara dunia manusia dan yang tak kasat mata. Di sana, hidup dan mati,
logika dan mistik, berdampingan begitu erat.
Aku, Imran Ibnu, adalah saksi hidup dari kisah yang banyak orang sebut tak masuk akal. Tapi di desa itu, semua kisah seram bukan cerita bohong. Ia adalah napas kehidupan. Dan meski aku memilih pergi, sebagian diriku akan selalu terikat di sana—di antara bisik-bisik dedaunan dan tatapan kosong dari balik pohon tua.
Kalau suatu hari kamu melewati desa terpencil di Kalimantan dan mencium bau kemenyan dari tengah hutan, berhentilah sejenak. Dengarkan. Mungkin, mereka sedang memanggil namamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar