Tampilkan postingan dengan label ROMANSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ROMANSA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juni 2025

Yang Tersisa di Ujung Sungai Kapuas















Namaku Sari. Aku lahir dan besar di sebuah desa kecil di tepian Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Desa kami, meski terpencil, memiliki keindahan yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Hutan yang menghijau sepanjang mata memandang, suara burung yang tak pernah berhenti bersahut-sahutan, dan arus sungai yang mengalir tenang seperti menyimpan ribuan rahasia. Di sanalah aku bertemu dengan lelaki yang mengubah hidupku—Reza.

Aku pertama kali mengenalnya saat sedang membantu ibu menjual sayur di pasar apung. Reza bukan anak kampung. Ia datang dari Pontianak, seorang relawan pendidikan yang ditempatkan di sekolah dasar desa kami. Ia tinggi, berkulit sawo matang, dengan senyum yang selalu terasa tulus, dan mata yang menyimpan rasa ingin tahu yang besar tentang kehidupan kami.

“Ada tahu?” tanyanya waktu itu sambil menunjuk ke bakul anyaman tempat ibu meletakkan dagangan.

Aku mengangguk. “Tahu goreng atau tahu isi?”

Ia tertawa kecil. “Dua-duanya boleh?”

Itulah awalnya. Kami mulai sering berbicara. Reza dengan keingintahuan dan kesopanannya, aku dengan kekikukan yang perlahan-lahan mencair. Ia sering datang ke rumah, pura-pura membeli telur atau kelapa, tapi lebih sering duduk di teras sambil berbincang dengan ayahku tentang kondisi sekolah atau jalan rusak di desa kami.

Hubungan kami berkembang perlahan. Tidak ada kata cinta yang diucapkan. Tidak ada gombalan atau janji. Tapi tiap sore, ia mengantar anak-anak pulang naik perahu kecil, lalu menyempatkan mampir ke rumahku hanya untuk bertanya, “Sudah makan, Sari?” Atau sekadar, “Hari ini cuacanya panas ya.”

Tiga bulan sejak ia datang, aku tahu aku jatuh cinta. Tapi aku juga tahu cinta ini tidak mudah. Reza seorang muslim yang taat, sedangkan aku… aku keturunan Dayak, dan keluargaku masih memegang adat dan kepercayaan lama. Aku tumbuh dengan ritual-ritual leluhur: upacara tiwah untuk menghormati arwah, dan pantangan-pantangan yang tak boleh dilanggar. Di rumah kami, aroma dupa dan suara gendang sering terdengar saat malam purnama.

Suatu malam, Reza memberanikan diri bicara.

“Sari,” katanya lirih di tepi sungai. Bulan separuh tergantung di langit. “Apa kau percaya kita bisa bersama?”

Aku menoleh padanya. Suara jangkrik menyelimuti keheningan. “Aku tidak tahu. Aku ingin percaya.”

Dia mengangguk pelan. “Aku ingin mengenal keluargamu lebih dalam. Boleh?”

Aku mengangguk, walau dalam hati ada rasa takut. Ayah tidak akan mudah menerima. Ibu, meski lembut, sangat menjunjung tinggi adat. Dan satu hal lagi—hubungan beda keyakinan seperti kami masih dianggap aib di tempat kami.

Hari itu Reza datang ke rumah kami secara resmi, aku menyiapkan hati sebaik mungkin. Ia mengenakan baju koko putih dan membawa buah tangan dari kota. Ayah duduk di depan rumah dengan wajah datar. Ibu menyuguhkan kopi tanpa senyum. Tak ada percakapan hangat. Hanya suara jangkrik dan desir angin malam yang terdengar.

Ayah menatap Reza lama. “Kau tahu Sari bukan dari duniamu?”

Reza mengangguk. “Saya tahu, Pak.”

“Dan kau tahu kami tidak menikahkan anak kami dengan orang yang berbeda keyakinan.”

Reza menunduk. “Saya tidak ingin memaksakan, Pak. Saya hanya ingin mencoba.”

Ayah mendengus. “Kau bisa mencoba. Tapi sungai tetap sungai, dan daratan tetap daratan. Tak bisa disatukan tanpa banjir.”

Malam itu Reza pamit dengan mata yang basah. Aku menahannya sebentar di bawah pohon jambu belakang rumah.

“Kau masih yakin?” tanyaku.

Dia tersenyum, getir tapi hangat. “Aku tidak akan menyerah.”

Setelah malam itu, Reza semakin jarang datang ke rumah. Bukan karena menyerah, tapi karena ia ingin memberi ruang. Aku bisa melihat dari kejauhan, sesekali saat ia lewat naik sepeda motor tuanya menuju sekolah, pandangannya tetap mencari ke arah rumahku. Ia masih ada, hanya menjaga jarak.

Aku mencoba bersikap biasa, membantu ibu ke ladang, ikut ritual panen, menumbuk padi, menjemur hasil kebun. Tapi tiap malam, aku duduk di tepi sungai, mendengarkan suara air mengalir sambil berharap ada suara langkahnya dari balik semak. Reza pernah bilang, “Sungai ini saksi kita, Sar. Apa pun yang terjadi nanti, biar dia yang menyimpan semuanya.”

Tiga minggu sejak pertemuan itu, ibu akhirnya memulai percakapan yang paling sulit bagiku.

“Kau benar-benar mencintai dia?” tanyanya sambil menampi beras di dapur.

Aku tidak menjawab.

Ibu menghela napas. “Sari… kadang cinta itu tidak cukup. Dunia kita terlalu berbeda. Kau anak sulung. Kau tahu tanggung jawabmu.”

Aku tahu. Aku sangat tahu. Sebagai anak tertua, aku harus menjaga nama keluarga, menjadi contoh adik-adikku, dan kelak menjadi penjaga tradisi.

Tapi malam-malamku semakin hampa. Hari-hari terasa menggantung. Hingga suatu sore, Reza menungguku di dekat dermaga kecil, tempat biasanya aku menjemput air bersih dari sungai.

“Aku ingin pamit, Sar,” katanya pelan.

Aku menoleh cepat. “Pamit? Ke mana?”

“Penempatan tugasku sudah selesai. Aku akan kembali ke Pontianak. Besok pagi.”

Dunia seakan berhenti. Aku menatapnya, mencoba memahami kalimat itu. Tapi kepalaku berdenyut. Hatiku nyeri.

“Kenapa gak bilang dari kemarin-kemarin?” suaraku pecah.

Reza menunduk. “Aku pikir… kalau aku kasih tahu, kau akan lebih sakit. Tapi ternyata aku yang gak sanggup pergi tanpa pamit.”

Aku duduk di atas papan kayu, tangan gemetar. Ia duduk di sebelahku. Lama kami hanya diam.

“Aku gak pernah nyangka, Sar,” katanya akhirnya. “Gak pernah nyangka aku bisa jatuh cinta sedalam ini di tempat sekecil ini. Sama orang sekuat kamu.”

Aku menahan air mata. “Aku juga gak pernah nyangka. Tapi… kenapa harus seperti ini akhirnya?”

Ia mengangkat kepalaku dengan tangannya. “Karena kita hidup di dunia yang nyata. Dan kenyataannya, cinta kita gak punya tempat untuk tumbuh tanpa melukai terlalu banyak orang.”

Seketika aku menangis. Bukan hanya karena ia akan pergi. Tapi karena kami sama-sama tahu, kami tidak bisa melawan semuanya. Reza adalah lelaki yang baik. Tapi kebaikan tidak cukup untuk meluluhkan tembok adat dan keyakinan yang tertanam sejak ratusan tahun lalu di desaku.

Pagi itu, aku datang ke dermaga. Tidak untuk melarangnya pergi. Tapi untuk memeluknya terakhir kali.

Ia membawa ransel biru, jaket favoritnya yang sering ia pakai saat malam mengajar, dan selembar surat yang diselipkannya ke tanganku.

“Aku gak bisa janji kita akan bertemu lagi, Sar. Tapi aku janji, kau gak akan pernah aku lupakan.”

Kami hanya berdiri. Tak ada pelukan panjang seperti di film. Tak ada kata-kata mewah. Hanya dua manusia yang berdiri di ujung takdirnya. Lalu Reza melangkah naik ke perahu motor yang akan mengantarnya ke pelabuhan.

Aku berdiri di sana sampai suara mesin tak terdengar lagi. Sampai hanya suara sungai yang tersisa. Sungai Kapuas yang tetap mengalir tenang, seolah tahu bahwa satu bagian hatiku ikut terbawa arus pagi itu.

Isi Surat Reza

“Sari,

Maafkan aku harus pamit begini. Tapi aku ingin kau tahu, kau adalah rumah terindah yang pernah aku singgahi. Kadang hidup tidak memberikan kita pilihan yang adil. Tapi aku bersyukur, semesta sempat mempertemukan kita.

Jangan benci adatmu, jangan benci keluargamu. Mereka hanya menjaga apa yang mereka yakini. Sama seperti aku menjaga imanku. Tapi cinta kita—biarlah tetap hidup di kenangan.

Jika suatu saat kita bertemu lagi, entah di mana, aku harap kita bisa tersenyum. Bukan karena akhirnya bersama, tapi karena pernah mencintai dengan tulus.

Reza.”

Hari-hari setelah kepergian Reza adalah hari-hari yang berat. Aku kembali pada rutinitas, tapi tidak pernah lagi ke dermaga saat senja. Aku takut melihat bayangan diriku sendiri. Setiap suara motor lewat membuat jantungku berdebar, berharap itu dia, meski tahu itu mustahil.

Aku menyimpan surat itu di kotak kecil yang kubuat dari kayu ulin. Aku taruh di bawah kasur, bersama kenangan yang tak pernah bisa kuceritakan pada siapa pun. Bahkan pada adik perempuanku, yang kadang bertanya kenapa aku jadi pendiam.

Tapi satu hal yang kutahu pasti—aku tidak menyesal.

Tiga tahun berlalu sejak pagi itu di dermaga. Tapi rasanya baru kemarin aku melihat Reza melambaikan tangan sambil membawa ransel birunya. Waktu memang berjalan, tapi tak semua luka ikut sembuh bersamanya.

Aku kini menjadi guru honorer di SD tempat Reza dulu mengajar. Ya, hidup kadang seperti lingkaran. Tempat ia datang, adalah tempat aku menetap. Anak-anak sering bertanya, “Bu Sari, siapa yang ngajarin Ibu ngajar kayak Pak Reza?” Dan aku hanya tersenyum, tak pernah menjawab. Tak ada gunanya menyebut nama yang kini hanya hidup dalam kenangan.

Setiap sudut sekolah menyimpan jejaknya. Meja guru yang dulu ia pakai masih kusimpan rapi. Papan tulis dengan coretan kapur bertuliskan “Belajar itu petualangan” pernah ia tulis suatu pagi saat anak-anak malas belajar. Masih kuingat dengan jelas bagaimana dia tertawa sambil membujuk si kecil Joni yang menangis karena tak bisa membaca. Reza tak pernah memaksa, dia mengajar dengan hati.

Hari-hari terasa datar tanpa dia. Tapi aku perlahan belajar menerima. Seperti sungai Kapuas yang terus mengalir tanpa mengeluh, aku pun belajar melanjutkan hidup tanpa menyimpan dendam. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Tidak pada Reza. Tidak pada ayahku. Tidak juga pada adat. Hidup memang tidak harus adil, tapi harus dijalani.

Suatu malam, saat bulan purnama, aku menemani ibu melakukan ritual kecil untuk leluhur. Di tengah asap dupa dan denting suara gong kecil, aku memandangi langit. Bertanya dalam hati: apakah Reza juga sedang menatap langit yang sama dari kota jauh di sana?

Sepekan kemudian, sebuah surat datang. Tanpa nama pengirim. Hanya cap pos dari Pontianak. Aku tahu itu dari Reza bahkan sebelum membacanya.

“Sari,

Aku dengar dari seorang teman lama kalau kamu sekarang mengajar. Hatiku hangat mendengarnya. Kau pasti menjadi guru yang baik, seperti dulu kau menjadi pendengar yang sabar untuk semua ceritaku.

Aku sudah bertunangan. Dia baik. Dia juga mengajar. Mungkin semesta tahu aku harus terus berjalan. Tapi malam-malam masih terasa sepi tanpa obrolan kita. Tanpa suara sungai Kapuas dan aroma kopi buatan ibumu.

Tapi aku tidak menyesal. Kau pernah menjadi tempat pulang terbaik.

Terima kasih telah mengizinkanku singgah.

Reza.”

Tanganku gemetar saat membaca kalimat itu. Entah kenapa, meski aku sudah mencoba kuat, air mata tetap mengalir. Bukan karena cemburu. Tapi karena hati ini diam-diam masih menyisakan ruang kecil yang menolak melupakan.

Aku duduk di depan rumah, memandangi sungai yang tetap tenang. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana hidupku jika saat itu kami melawan? Jika aku nekat pergi meninggalkan desa, meninggalkan adat, dan ikut Reza ke kota?

Tapi apakah bahagia bisa bertahan jika dibangun di atas luka orang lain?

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, aku masih hidup. Dan aku bahagia dengan pilihan yang telah aku buat, meski kadang kesepian datang tanpa permisi.

Beberapa tahun kemudian, aku menikah dengan seorang pemuda Dayak dari desa tetangga. Ia baik, sederhana, dan tidak banyak bertanya tentang masa laluku. Kami hidup sederhana di rumah kecil di tepi sungai. Tapi saat malam sunyi, ketika suamiku tertidur dan hanya ada suara air mengalir, kadang kenangan itu kembali.

Kenangan tentang seorang lelaki dari kota, yang datang dengan senyum ramah dan pergi dengan membawa setengah jiwaku.

Epilog:

Sungai Kapuas masih mengalir, membawa ratusan cerita dari hulu ke hilir. Dan di antara riak-riaknya, tersimpan satu kisah tentang cinta yang tak bisa menjadi nyata.

Aku, Sari, tetap tinggal di sini, menjadi saksi bahwa tidak semua cinta harus dimiliki. Beberapa cukup disimpan dalam hati. Sebagai pelajaran. Sebagai kenangan. Dan sebagai pengingat bahwa pernah, di suatu masa, aku mencintai seseorang sepenuh jiwa—meski pada akhirnya, yang bisa aku lakukan hanyalah melepaskannya dengan ikhlas. (TAMAT)

PANEN DOC AYAM KAMPUNG