Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juni 2025

Warisan Gelap dari Tanah Leluhur : Sekali Masuk Dunia Gaib, Tak Bisa Keluar!!

seorang dukun dikelilingi makhluk ghoib (ilustrasi) 


















Aku lahir dan tumbuh besar di sebuah desa kecil di pedalaman Kalimantan Timur. Namanya Desa Panggong—sebuah nama yang tak akan kamu temukan di peta, tapi sangat terkenal di antara para dukun, orang pintar, dan pecinta hal mistis. Desa ini tidak seperti desa lain yang mungkin kau kenal dari cerita dongeng atau tayangan wisata. Di Panggong, realita dan dunia gaib berjalan berdampingan. Dukun bukan sekadar profesi, tapi panggilan leluhur. Dan ilmu hitam bukan mitos, tapi bagian dari keseharian.

Aku tumbuh dikelilingi aroma kemenyan, suara mantra yang dilantunkan tengah malam, dan kisah-kisah menyeramkan yang bukan hanya didengar, tapi juga dilihat langsung. Di desa ini, tak ada yang namanya “kebetulan”. Kalau seekor ayam mati mendadak, pasti ada yang mengirim santet. Kalau seorang perempuan tiba-tiba gila, pasti ada roh leluhur yang masuk ke tubuhnya.

Suasana Desa yang Tak Pernah Sepi dari Gaib

Desa Panggong dikelilingi hutan lebat yang selalu berkabut. Bahkan di siang bolong, kabut tipis sering menggantung rendah di antara pepohonan. Suara burung malam dan serangga seperti tak kenal waktu. Jalan tanah yang menghubungkan antar rumah hanya setapak sempit yang kalau hujan akan berubah menjadi lumpur dalam.

Rumah-rumah di sini terbuat dari kayu ulin tua, berdiri di atas tiang, beratap sirap, dan dikelilingi pekarangan luas yang ditumbuhi tanaman perdu. Di sudut-sudut rumah, hampir selalu ada altar kecil tempat sesajen diletakkan setiap malam Jumat. Lilin menyala, kembang tujuh rupa, dan kadang darah ayam kampung—semua itu adalah persembahan untuk para penjaga desa, yang dipercaya bukan manusia.

Yang paling membuat bulu kuduk merinding adalah ketika malam turun. Setelah jam 8 malam, hampir semua rumah menutup pintu rapat. Lampu dimatikan. Tak ada yang keluar rumah kecuali mereka yang "punya urusan", entah dengan dukun atau roh halus. Di saat-saat seperti itu, kau bisa mendengar suara-suara aneh dari hutan: rintihan, jeritan jauh yang menggema, dan kadang langkah kaki di atap rumah.

Dan ya, aku pernah melihat sesuatu—bukan sekali, tapi berkali-kali.

Pengalaman Pertama Melihat Penampakan

Aku masih berusia delapan tahun saat pertama kali melihat sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Waktu itu malam Jumat Kliwon—malam yang dipercaya warga desa sebagai saat di mana batas antara dunia manusia dan makhluk halus menjadi paling tipis.

Aku tidur di ruang tengah bersama nenek. Lampu pelita temaram menggantung di sudut ruangan, dan suara tokek dari dinding kayu bersahut-sahutan. Aku terbangun karena mendengar suara langkah kaki pelan, seolah ada seseorang berjalan mondar-mandir di depan rumah. Tadinya kupikir itu paman. Tapi langkah itu terlalu pelan, terlalu berat, seperti kaki yang diseret.

Aku memberanikan diri mengintip dari jendela yang sedikit terbuka. Dan di sanalah aku melihatnya—sesosok perempuan tinggi kurus, mengenakan kain putih lusuh yang kotor seperti habis digulingkan di lumpur. Rambutnya panjang terurai, menutupi wajah. Ia berdiri diam, mematung tepat di depan pohon nangka yang tumbuh di halaman.

Aku terpaku. Nafasku tercekat. Tapi tubuhku tak bisa bergerak. Perempuan itu mengangkat kepalanya perlahan, menoleh ke arah jendela. Wajahnya… kosong, pucat seperti tanpa warna, dan matanya hitam penuh. Ia tersenyum—senyum lebar yang membuat seluruh tubuhku menggigil.

Aku berteriak. Nenek langsung terbangun, memelukku dan berulang kali membisikkan doa. Esok harinya, nenek berkata bahwa itu "penunggu pohon" yang kadang menampakkan diri kalau ada anak kecil yang "terpilih".

Terpilih? Aku tak paham maksudnya. Tapi sejak malam itu, aku tahu, hidupku di desa ini tidak akan pernah lepas dari dunia yang tak terlihat.

Perdukunan, Santet, dan Keluarga Kami

Di desa Panggong, tidak semua dukun berbuat jahat. Ada dua jenis yang dikenal masyarakat: dukun putih dan dukun hitam. Dukun putih biasanya dimintai tolong untuk mengobati orang sakit, mengusir roh jahat, atau menjaga kebun dari gangguan gaib. Tapi dukun hitam… mereka yang disewa untuk mencelakai orang.

Pamanku, adik ibu, adalah seorang dukun. Ia termasuk yang putih, katanya. Tapi aku tahu, ia juga bisa melakukan sebaliknya jika diminta dan dibayar mahal. Ia sering memandikan keris, membaca rajah dari daun lontar, dan sesekali menyembelih ayam hitam di belakang rumah saat bulan purnama.

Aku pernah melihat langsung seorang tetangga kerasukan, tubuhnya membiru dan lidahnya terjulur panjang. Pamanku menanganinya. Ia membakar kemenyan, menaburkan garam dan bunga di sekeliling pasien, lalu mulai membacakan mantra dalam bahasa yang tak kupahami. Setelah hampir dua jam, tubuh perempuan itu akhirnya tenang, tapi matanya tetap kosong seperti tak ada jiwa di dalamnya.

Orang bilang, roh jahat itu tidak sepenuhnya pergi—ia hanya berpindah ke pohon besar di dekat rumah.

Penampakan yang Menghantui Tidurku

Semakin aku tumbuh, semakin banyak yang kulihat. Sosok-sosok yang berjalan di belakang pohon, bayangan tinggi menjulur dari hutan ke halaman, atau suara tawa perempuan dari kamar mandi saat tak ada orang di sana.

Pernah suatu malam, aku pulang dari acara pemakaman warga desa yang meninggal karena "dikirimkan ilmu". Di perjalanan pulang, aku melewati jalan setapak yang sepi. Gelap. Hanya lampu senter kecil yang menyorot tanah di depanku. Dan tiba-tiba, di tengah jalan, berdiri sosok anak kecil. Ia berdiri menunduk, rambutnya menutupi wajah, mengenakan baju tidur putih.

Kupikir itu anak tetangga, tapi tubuhnya tidak menyentuh tanah.

Aku membeku. Aku mundur perlahan. Tapi sebelum aku bisa berbalik, anak itu mengangkat kepalanya dan suaranya mengerang, bukan seperti anak kecil, tapi seperti suara tua dari perut bumi. “Pulangkan...”

Aku berlari sekuat tenaga tanpa menoleh.

Upacara Leluhur dan Kutukan Keturunan

Setiap tahun, desa kami mengadakan upacara besar bernama “Bakayun”. Upacara ini dilakukan untuk menghormati arwah leluhur dan menolak bala. Biasanya, warga akan membawa persembahan berupa makanan, bunga, dan hewan kurban ke pinggir sungai. Di sanalah para tetua kampung memanggil roh-roh penjaga desa.

Ada satu cerita menyeramkan tentang keluarga yang tidak ikut upacara karena dianggap “sudah modern”. Dalam sebulan, tiga anggota keluarganya meninggal secara misterius. Yang satu demam tinggi dan mendadak buta, yang lain tiba-tiba tenggelam di kolam sempit, dan satu lagi mati tergantung di kamar padahal tak ada kursi atau tali di sana sebelumnya.

Sejak kejadian itu, tak ada lagi yang berani melewatkan upacara leluhur. Entah percaya atau tidak, di desa ini ada yang bilang: “kalau kau tidak menghormati yang lama, maka yang lama akan mencarimu.”

Malam Ketika Jin Penunggu Datang

Salah satu pengalaman paling menyeramkan yang tak pernah bisa kulupakan terjadi saat aku berusia 16 tahun. Malam itu ada suara gong kecil yang dipukul dari arah balai adat. Itu pertanda ada warga yang kerasukan dan meminta bantuan tetua desa. Aku ikut ke sana bersama pamanku, penasaran ingin tahu lebih banyak soal dunia yang selama ini hanya kulihat dari balik jendela.

Di balai adat yang remang-remang, seorang lelaki kurus dengan tubuh penuh luka duduk bersila. Ia menggigil, tapi bukan karena dingin. Matanya merah seperti terbakar, dan tubuhnya tiba-tiba terangkat sedikit dari lantai, tanpa ditopang apa pun. Bau kemenyan sangat menyengat, bercampur bau anyir darah ayam yang baru saja disembelih sebagai persembahan.

Pamanku melantunkan mantra, dan lelaki itu mulai berbicara dengan suara yang dalam dan menggelegar, bukan suara manusia biasa. “Tanah ini bukan milik kalian. Kami sudah lama menjaga hutan ini. Tapi kalian terus menebang, mengotori sungai, dan melupakan kami.”

Ternyata, itu suara jin penjaga hutan yang marah karena beberapa warga mulai menjual lahan ke perusahaan sawit. Ia menuntut persembahan khusus—bukan ayam, bukan babi, tapi darah manusia dari garis pelanggar.

Malam itu, ritual penebusan dilakukan. Seorang tetua kampung memotong ujung jarinya, darahnya ditampung dan dilempar ke sungai. Ritual seperti itu, yang mungkin terdengar gila bagi orang kota, adalah bagian dari kehidupan di desa kami.

Kisah Pohon Tua dan Kutukan Bayi Menangis

Ada sebuah pohon besar di dekat rumah nenek—pohon kapur tua yang dikenal sebagai tempat “bersemayamnya anak-anak halus.” Setiap malam Jumat, hampir pasti terdengar suara bayi menangis dari arah pohon itu. Tapi kalau dicari, tak ada siapa-siapa. Suara itu kadang disusul bau busuk seperti bangkai, atau angin dingin yang berhembus tanpa sebab.

Suatu ketika, seorang pemuda baru dari luar desa—menantu salah satu warga—nekat menebang pohon itu karena dianggap menghalangi jalan. Ia mengabaikan peringatan warga dan tertawa sinis saat disebut “tak sopan pada penunggu.”

Dua hari kemudian, anaknya yang masih bayi tiba-tiba demam tinggi, menangis sepanjang malam tanpa bisa ditenangkan. Matanya kosong. Mulutnya komat-kamit. Dokter dari kota tidak bisa menemukan penyakit apa pun.

Pamanku dipanggil. Ia hanya berkata, “Penunggu itu mengambil roh anak ini sebagai pengganti rumahnya yang ditebang.”

Butuh tujuh hari tujuh malam, dengan ritual penuh darah dan mantra, untuk menyelamatkan anak itu. Setelah pohon yang tumbang diberi sesajen dan didirikan ulang sebuah tugu kecil, barulah si bayi kembali normal.

Pilihan: Bertahan atau Pergi

Hidup di desa seperti Panggong tidak mudah. Setiap hari harus hidup berdampingan dengan sesuatu yang tak terlihat. Tak ada keputusan yang bisa diambil sembarangan, karena segalanya bisa berdampak pada hubungan dengan makhluk gaib. Orang-orang harus tahu hari baik untuk menanam, hari buruk untuk bepergian, bahkan waktu tertentu yang pantang melahirkan anak.

Aku pernah sakit keras saat usia dua puluh. Badan panas tinggi, tapi dokter mengatakan tidak ada infeksi atau tanda medis apa pun. Ibuku akhirnya membawa aku ke seorang dukun tua yang tinggal di tepi sungai. Di sana, ia mengusap tubuhku dengan daun sirih dan membakar kain putih bekas pakaian yang tak sengaja kubakar minggu sebelumnya—rupanya kain itu, menurut sang dukun, berisi “penjaga” dari nenekku yang dulu, dan aku telah menyinggungnya.

Sejak kejadian itu, aku mulai berpikir: sampai kapan aku hidup seperti ini?

Akhirnya, dengan berat hati, aku memutuskan untuk pergi dari desa. Bukan karena benci, tapi karena aku tak sanggup lagi hidup dalam ketakutan. Aku ingin melihat dunia lain—dunia yang tidak selalu diwarnai rasa was-was karena suara dari balik pohon atau langkah kaki yang tak punya bayangan.

Setelah Pergi, Namun Tak Pernah Lupa

Meski aku kini tinggal di kota, jauh dari hutan dan pohon besar, bayangan masa kecilku di Desa Panggong tidak pernah benar-benar hilang. Setiap kali aku menyalakan dupa atau mencium bau tanah basah, ingatanku kembali pada suara-suara gaib dari balik jendela, atau perempuan berjubah putih yang pernah menatapku dalam diam.

Aku masih sering bermimpi berjalan di jalanan desa yang berkabut, dan bertemu nenekku di ambang pintu rumah kayu. Kadang, dalam mimpiku, aku mendengar suara perempuan berbisik, “Kau tak pernah benar-benar pergi…”

Mungkin benar kata orang tua di kampung: “Sekali kau menjadi bagian dari dunia gaib, kau tak akan pernah benar-benar bebas.”

Desa yang Tak Bisa Dilupakan

Desa Panggong bukan tempat biasa. Ia bukan sekadar kampung halaman, tapi juga gerbang antara dunia manusia dan yang tak kasat mata. Di sana, hidup dan mati, logika dan mistik, berdampingan begitu erat.

Aku, Imran Ibnu, adalah saksi hidup dari kisah yang banyak orang sebut tak masuk akal. Tapi di desa itu, semua kisah seram bukan cerita bohong. Ia adalah napas kehidupan. Dan meski aku memilih pergi, sebagian diriku akan selalu terikat di sana—di antara bisik-bisik dedaunan dan tatapan kosong dari balik pohon tua.

Kalau suatu hari kamu melewati desa terpencil di Kalimantan dan mencium bau kemenyan dari tengah hutan, berhentilah sejenak. Dengarkan. Mungkin, mereka sedang memanggil namamu.

Hantu Tanpa Kepala dari Hulu Belian: Jangan Tatap Matanya !!

Hantu kuyang, dipercaya eksis di beberapa daerah Kalimantan. (pixabai)


Namaku Rian, dan ini adalah kisah nyata yang tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Kejadian ini terjadi sekitar lima tahun lalu, saat aku baru saja lulus kuliah dan ingin mencari pengalaman hidup yang berbeda dari teman-teman seangkatanku.

Waktu itu, aku memutuskan untuk ikut program relawan pendidikan di Kalimantan Timur, tepatnya di sebuah desa terpencil bernama Sungai Belian. Nama desa itu tidak banyak dikenal orang. Untuk mencapainya, aku harus menempuh perjalanan hampir dua belas jam dari Samarinda, sebagian besar dengan perahu kecil menyusuri sungai yang sepi dan berkelok.

Awalnya, semua terasa menenangkan. Udara segar, suara hutan yang menyejukkan, serta sambutan hangat dari warga desa membuatku betah. Mereka sangat menghargai kedatangan orang luar, apalagi yang niatnya membantu pendidikan anak-anak mereka.

Tapi baru malam ketiga aku di sana, semua mulai terasa… ganjil.

Hari itu aku menginap di rumah kepala desa, Pak Jamal, karena rumah guru yang disiapkan masih direnovasi. Rumah Pak Jamal terbuat dari kayu ulin, berdiri di tepi sungai dengan halaman belakang yang langsung berbatasan dengan semak rimbun.

Saat makan malam, aku melihat istrinya, Bu Erni, memasang benda aneh di tiap jendela: bawang putih yang diikat dan beberapa potong kain merah.

Aku pikir itu hanya tradisi. Tapi saat aku bertanya, Bu Erni hanya menjawab singkat.

“Buat jaga-jaga aja, Nak.”

Waktu itu aku mengangguk saja. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi malamnya, saat semua orang sudah tidur dan aku hampir terlelap, aku mendengar suara aneh. Seperti suara desisan… panjang dan berat… bercampur suara angin yang menderu lewat atap rumah.

Aku kira hanya hewan malam.

Namun tidak lama kemudian, aku mendengar suara bayi menangis.

Tangisnya lirih, seperti dari kejauhan… lalu semakin dekat. Tangisan itu berhenti tepat di luar jendela kamar tempatku tidur.

Aku menahan napas. Aku yakin tidak ada bayi di rumah Pak Jamal. Anak-anak mereka sudah besar. Jadi… siapa?

Aku bangkit pelan dari tempat tidur, membuka sedikit celah tirai. Dan saat itulah aku melihatnya. Sesuatu… melayang di luar jendela.

Sosok kepala wanita, dengan rambut panjang terurai dan wajah pucat pasi. Tapi yang membuatku hampir pingsan adalah… di bawah lehernya, menjuntai organ-organ tubuh: usus, hati, paru-paru… semua menggantung dan mengeluarkan tetesan darah ke tanah.

Aku terpaku. Tak bisa bergerak. Tubuhku membeku. Makhluk itu—kuyang—mengelilingi rumah perlahan, seperti sedang mencari celah.

Tiba-tiba Bu Erni masuk ke kamarku dengan cepat, membawa sebotol minyak dan sebuah kain.

Dia menarikku ke sudut kamar dan menyiramkan minyak itu ke sekeliling ruangan sambil komat-kamit membaca doa.

“Jangan keluar. Jangan lihat lagi. Dia bisa merasakan matamu,” bisiknya.

Aku hanya bisa mengangguk, gemetar hebat.

Besok paginya, aku duduk diam di beranda, masih syok.

Pak Jamal mendekat dan duduk di sampingku.

“Kamu lihat dia tadi malam ya?”

Aku tidak menjawab, hanya menatapnya kosong.

Dia menghela napas panjang.

“Sudah lama dia tidak datang. Tapi belakangan ini, ada satu dua orang yang bilang mendengar tangisan bayi di malam hari. Sepertinya dia kembali.”

“Kuyang itu… apa benar?” akhirnya aku bertanya.

Pak Jamal mengangguk.

“Dulu, puluhan tahun lalu, ada perempuan yang tinggal di desa seberang. Dia belajar ilmu hitam karena ingin tetap cantik dan awet muda. Tapi dia gagal. Malamnya, tubuhnya ditemukan gosong, tapi kepalanya hilang. Setelah itu, teror kuyang mulai muncul.”

Aku hanya bisa menelan ludah.

“Waktu itu, banyak bayi yang hilang dari kandungan ibunya. Ada yang keguguran, ada yang perutnya seperti digigit makhluk buas. Sejak itu, semua ibu hamil dijaga ketat di rumah adat. Tapi belakangan, sudah banyak yang lupa...”

Malam berikutnya, aku ikut Pak Jamal dan warga ke rumah Bu Dina, salah satu warga yang sedang hamil tujuh bulan. Mereka mulai melakukan penjagaan bergilir. Rumah itu dijaga 24 jam.

Aku ikut berjaga di malam hari bersama dua warga lainnya.

Sekitar pukul dua dini hari, tiba-tiba kami mendengar suara anjing menggonggong keras dari arah sungai. Disusul suara sayap mengepak… tapi bukan suara burung. Berat. Lain.

Langit gelap. Hanya ada cahaya dari lampu minyak.

Lalu... terdengar suara tangis bayi lagi. Dari atap rumah.

Warga langsung bersiaga. Mereka menyulut obor, membawa bawang putih, dan mulai membaca doa keras-keras.

Dari bayangan di langit, kami melihat sosok kuyang berputar-putar seperti kelelawar besar. Tapi wujudnya jelas kepala wanita.

Salah satu warga, Pak Sarman, melemparkan batu besar. Tapi makhluk itu hanya menghindar dan tertawa melengking.

Tangis bayi terdengar makin keras, disusul suara ketukan dari jendela kamar Bu Dina.

“Buka… aku haus…”

Suaranya seperti suara wanita, tapi serak dan bergema.

Untungnya jendela sudah dipaku rapat. Makhluk itu mengitari rumah selama hampir satu jam. Tapi akhirnya pergi, mungkin karena tidak menemukan celah.

Tapi malam itu, kami semua tidak bisa tidur. Wajah-wajah ketakutan memenuhi rumah.

Tiga hari setelah kejadian itu, kabar duka datang dari desa sebelah. Seorang ibu yang baru saja melahirkan kehilangan bayinya di malam hari. Bayinya hilang begitu saja, tanpa jejak. Di sekitar rumah, hanya ada tetesan darah dan bau amis menyengat.

Warga mulai resah. Kepala adat pun turun tangan. Mereka mengadakan ritual khusus: pemanggilan roh leluhur untuk mencari tahu asal-usul kuyang yang kembali meneror.

Aku diperbolehkan melihat dari jauh. Di rumah adat yang luas, para tetua duduk melingkar sambil membakar kemenyan dan membaca mantra. Beberapa membawa sesajen, termasuk darah ayam, telur, dan air sungai.

Setelah hampir satu jam, tiba-tiba salah satu tetua kerasukan.

Suara lelaki tua itu berubah menjadi serak dan mengerikan.

“Dia belum puas… dia belum kenyang… tubuhnya terikat di pohon tua di bukit barat… kau harus temukan dan bakar tubuhnya… sebelum dia menyatu selamanya…”

Semua orang hening.

Keesokan harinya, kami pergi ke bukit barat desa. Tempat itu dikenal angker dan jarang didatangi orang. Dikelilingi hutan lebat dan pohon besar yang berlumut.

Setelah mencari hampir dua jam, kami menemukan sebuah pohon besar berlubang di bagian tengah. Di dalamnya… ada sesuatu.

Tubuh manusia… tapi hanya bagian badan. Kepala dan organ dalamnya tidak ada. Tubuh itu dililit kain hitam, bau busuk menusuk hidung.

Tanpa pikir panjang, para warga langsung membakar tubuh itu dengan kemenyan dan minyak tanah.

Apinya membara tinggi. Dari dalam kobaran api, terdengar suara jeritan melengking… seperti jeritan perempuan yang kesakitan. Suara itu berlangsung hampir satu menit, lalu hilang.

Hutan kembali hening. Setelah hari itu, tidak ada lagi suara tangis bayi di malam hari. Tidak ada lagi kuyang yang berputar di langit. Desa kembali tenang.

Tapi aku… tidak pernah benar-benar tenang.

Sampai sekarang, kadang aku masih bermimpi tentang malam itu. Tentang makhluk tanpa tubuh dengan wajah putih pucat dan usus yang menggantung.

Aku kembali ke kota setelah kontrak relawan selesai. Tapi kisah itu selalu terpatri dalam ingatanku.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: apakah kuyang itu benar-benar makhluk gaib… atau ada penjelasan ilmiah di baliknya?

Tapi saat aku ingat suara tangis bayi yang menggema di tengah malam… aku tahu jawabannya.

Beberapa hal… memang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Dan kuyang… adalah salah satunya.

Rabu, 18 Juni 2025

"Yang Tenggelam Tak Pernah Diam", Sang Arwah Sungai yang Haus Darah!!

ular raksasa yang dipercaya sebagai arwah penunggu sungai Kalimantan (pixabay/ilustrasi)

NAMAKU Fadil. Tahun ini usiaku 31 tahun, dan aku bersumpah demi Tuhan, apa yang kutulis ini bukan rekaan. Kejadian ini terjadi tujuh tahun lalu, saat aku masih menjadi pekerja lapangan di sebuah proyek pembangunan jembatan di pedalaman Kalimantan Timur—di daerah yang disebut warga sebagai Sungai Tujuh.

Sungai itu panjang dan lebar, mengalir membelah hutan yang masih perawan. Airnya tenang, nyaris tidak bersuara, seolah menyembunyikan sesuatu di balik ketenangannya. Warga desa sekitar menyebutnya “Sungai yang Memanggil.” Kata mereka, kalau kau duduk sendirian di tepian dan mendengar namamu dipanggil dari arah air, jangan dijawab. Jangan menoleh.

Awalnya aku tak percaya.

Aku datang bersama empat rekan: Dodi, Rian, Togar, dan satu mandor lokal bernama Pak Darius. Kami tinggal di rumah panggung yang disewa dari warga. Setiap pagi kami menyusuri hutan untuk meninjau lokasi proyek, dan sore hari kembali dengan tubuh penuh lumpur.

Hari-hari pertama terasa biasa saja. Sampai malam keempat, saat Dodi menghilang.

Malam yang Aneh

Waktu itu sudah hampir tengah malam. Kami sedang duduk di beranda rumah, minum kopi sambil mengobrol. Dodi pamit turun ke sungai untuk mencuci kaki.

"Lima menit aja," katanya. "Badan gerah banget."

Aku sempat menegur, “Udah malem, Dod. Mending besok pagi aja.”

Tapi dia hanya tertawa kecil. "Airnya dingin, bro. Biar segar dikit."

Dodi turun dengan senter kecil. Kami terus mengobrol, sampai sadar… dia tak kembali.

Sepuluh menit. Dua puluh menit. Lalu setengah jam. Kami mulai gelisah.

Aku dan Togar turun ke sungai, memanggil-manggil namanya.

“Dod! Woi, Dodi!”

Tak ada sahutan. Senter yang ia bawa pun tak terlihat.

Kami terus menelusuri pinggiran sungai, hingga Pak Darius datang tergesa-gesa membawa lampu petromak.

“Dia nyemplung?” tanyanya cepat.

“Enggak tahu. Dia cuma mau cuci kaki,” jawabku, mulai panik.

Kami menyisir pinggiran sungai. Lampu petromak menyorot air yang tenang… terlalu tenang. Tak ada gelembung. Tak ada riak. Seperti kaca hitam pekat.

Lalu… terdengar suara.

“Doooood…”

Aku menoleh cepat ke arah hutan. Suara itu… seperti suara Dodi. Tapi serak. Panjang. Menggema. Dan seperti datang dari air.

Pak Darius mencengkeram lenganku. “Jangan jawab. Ayo balik ke rumah. Cepat!”

“Dia Sudah Diambil”

Di rumah, kami duduk pucat pasi. Tak ada yang bicara selama hampir satu jam.

Akhirnya Pak Darius angkat suara.

“Kalian tahu kenapa orang sini nggak mandi malam di sungai?”

Kami menggeleng.

“Karena sungai ini dijaga,” katanya pelan. “Penunggunya nggak suka kalau malam diganggu. Apalagi kalau orang asing.”

Kami masih mencoba berpikir rasional. Tapi bagaimana menjelaskan suara Dodi? Kenapa ia tak kembali? Tidak ada jejak, tidak ada suara percikan, tidak ada jeritan. Hanya… hilang.

“Mungkin dia terpeleset…” Rian mencoba menjelaskan.

“Tapi pasti ada suara!” bentak Togar. “Dia nggak mungkin hilang gitu aja!”

Pak Darius lalu bercerita. Dulu, katanya, sungai itu dipakai warga sebagai tempat ritual persembahan. Setiap tahun, mereka melempar sesajen—ayam hitam, telur, dan minyak wangi—ke tengah arus untuk menjaga ketenangan roh penjaga sungai.

“Tapi makin ke sini, orang makin lupa. Termasuk kepala desa sekarang,” ucapnya lirih. “Dan penunggu itu… mulai marah.”

Pencarian yang Sia-Sia

Esoknya, warga dan kami menyisir sungai sejak pagi. Kami pakai perahu kecil, menyusuri tiap sudut, membalik semak, mencari jejak Dodi.

Tak ada apa-apa. Sungai itu tetap diam. Seolah menelan Dodi dan merahasiakannya.

Tapi satu hal yang aneh… di dekat akar pohon beringin besar, kami menemukan senter Dodi. Tergeletak menyala, lampunya redup… menghadap ke air.

Dan di sekitar itu, tanahnya becek… tapi tak ada jejak kaki sama sekali. Hanya jejak seperti… seretan ekor panjang.

Pak Darius langsung gemetar. “Itu jejaknya…”

“Apa maksudnya?” tanyaku.

“Siluman ular air… dia penjaga sungai ini. Kalau lapar, dia memanggil. Dan kalau dijawab… dia menelan.”

Wujudnya Menampakkan Diri

Tiga malam setelah hilangnya Dodi, kami sepakat untuk segera pulang. Tapi malam sebelum keberangkatan, kejadian paling mengerikan terjadi.

Aku terbangun karena mendengar suara air berkecipak keras.

Seperti ada sesuatu yang sangat besar bergerak di sungai.

Aku bangkit, mengintip dari celah jendela.

Apa yang kulihat membuat jantungku seperti berhenti berdetak.

Sosok raksasa menjulang dari air. Berbentuk seperti ular, namun bersisik besar kehitaman. Kepala makhluk itu seperti buaya tua—matanya merah menyala, dan giginya… panjang, mengerikan. Di punggungnya tumbuh tonjolan seperti duri.

Ia melata di atas permukaan sungai dengan perlahan… matanya menatap ke arah rumah kami.

Tiba-tiba suara seperti erangan muncul dari mulutnya. Berat. Dalam. Seolah dari dasar bumi.

“Aaaaangg… kaaamuuu… belum… pulang…”

Itu… suara Dodi. Tapi dari dalam mulut makhluk itu.

Aku menjerit dan langsung terjatuh.

Pak Darius masuk dan menutup semua jendela.

“Jangan lihat dia. Jangan! Dia tahu kamu yang melihat!”

Korban Kedua

Kami memutuskan untuk pergi besok pagi. Tapi malam itu… Rian keluar sendirian. Ia bilang tak kuat menahan rasa bersalah.

“Saya harus cari Dodi! Mungkin dia masih bisa diselamatkan!”

Kami mencoba menahan, tapi dia nekat lari ke arah sungai.

Sepuluh menit… dua puluh… lalu terdengar teriakan panjang, seperti orang dicekik.

Kami lari menyusul, tapi sudah terlambat.

Di tepi sungai… hanya ada pakaian Rian yang tergeletak. Dan ceceran darah.

Air sungai beriak kecil, seolah baru saja ada yang masuk… atau keluar.

Pulang yang Tak Pernah Sama

Keesokan harinya kami pulang, hanya bertiga.

Saat perahu menjauh dari desa, aku menatap ke belakang. Kabut turun tipis di atas sungai. Dan samar… aku melihat sesuatu berdiri di bawah pohon beringin besar.

Tinggi. Hitam. Berkilau seperti basah. Menatap kami dengan mata merah menyala.

Aku tahu… dia melihatku.

Sejak hari itu, hidupku tak pernah sama. Aku sering mimpi buruk—tentang sungai yang memanggil, tentang mata yang mengintai dari air.

Kadang, saat mandi malam, aku merasa air di kamar mandi bergolak sendiri.

Aku masih ingat wajah Dodi dan Rian. Aku tak bisa lupa.

Dan tiap aku mendengar suara air malam-malam, hatiku langsung dingin.

                                           ***

Suara dari Dalam Mimpi

Setelah kembali ke kota, aku berusaha hidup normal. Tapi malam-malamku tak lagi damai. Hampir setiap tidurku disiksa mimpi buruk. Aku melihat Dodi berjalan di sungai yang hitam dan pekat. Ia memanggil namaku dengan suara bergetar dan tubuh yang separuh terendam lumpur.

"Fadil… tolong aku… masih ada waktu…"

Kadang Rian muncul juga, duduk di tepi sungai dengan wajah penuh lumpur dan darah. Matanya kosong, tapi bibirnya bergerak.

"Sungai itu belum selesai denganmu."

Aku mulai takut tidur. Aku pasang lampu sepanjang malam, tapi tak banyak membantu. Di kamar kosku yang sempit, aku kadang mendengar suara tetesan air... padahal kamar mandi kering. Atau suara kecipak dari jendela, meski kamarku di lantai dua.

Aku pergi ke ustaz, ke psikolog, bahkan ke pendeta teman sekantor. Semua menyebut satu hal: traumamu dalam. Tapi aku tahu, ini lebih dari sekadar trauma.

Suatu malam, aku bangun dengan keringat dingin. Ada lumpur di ujung kakiku. Padahal aku belum keluar rumah. Aku semakin yakin, ada sesuatu yang mengikutiku dari sungai itu.

Kembali ke Sungai

Setahun kemudian, aku menerima kabar dari Pak Darius. Lewat pesan singkat ia menulis:

“Sungai memakan dua orang lagi. Mereka mandi malam. Kami butuh kamu kembali. Roh mereka belum tenang.”

Aku ragu. Tapi ada bagian dalam diriku yang merasa ini belum selesai. Aku harus kembali. Untuk Dodi. Untuk Rian. Dan untuk diriku sendiri.

Aku izin cuti dua minggu, dan kembali ke Kalimantan. Pak Darius menjemputku di dermaga. Ia tampak lebih tua dari terakhir kulihat, dengan mata lelah dan rambut beruban.

Kami kembali ke desa. Warga menyambutku diam-diam. Sebagian menatapku dengan iba, sebagian lagi dengan takut. Mereka bilang aku "Orang yang Pernah Dipanggil"—dan bisa jadi satu-satunya yang masih selamat.

Malam pertama aku menginap di rumah kepala adat. Kami melakukan ritual kecil: menabur garam dan membakar kemenyan di tepi sungai. Suara air tetap tenang, tapi hawa malam itu aneh. Dingin… seperti bukan dari dunia ini.

Di kejauhan, terdengar suara erangan pelan. Seperti hewan sekarat… atau seseorang yang ditahan untuk berteriak.

Penampakan Kembali

Malam ketiga, aku bermimpi Dodi lagi. Tapi kali ini, ia tidak tenggelam. Ia berdiri di atas sungai, menunjuk ke arah sebuah pohon beringin besar.

"Dia disegel di bawah akar itu. Kau harus bebaskan aku, Fadil. Bakar tubuhnya."

Aku terbangun dengan tubuh menggigil. Pak Darius langsung mendatangiku.

"Kau bermimpi lagi, ya?"

Aku mengangguk pelan.

Keesokan harinya, kami menuju pohon beringin itu. Kami membawa tiga warga dan seorang dukun tua yang didatangkan dari desa sebelah. Di bawah akar besar, kami mulai menggali.

Setelah hampir dua jam, kami menemukan peti kayu lapuk. Saat dibuka, bau busuk langsung menyeruak. Di dalamnya… tubuh manusia membusuk, dengan sisik menempel di kulitnya. Kepalanya tak ada. Di dadanya, tertancap paku besi.

"Itu penunggunya… dijebak oleh leluhur kami puluhan tahun lalu," kata dukun tua. "Tapi dia tak pernah mati. Ia hanya tidur. Dan setiap kali sungai terkotori atau dilupakan… ia bangun lagi."

Kami membakar tubuh itu dengan minyak dan dupa. Saat api menyala tinggi, terdengar jeritan dari arah sungai. Sungai yang tenang itu… tiba-tiba bergolak.

Air melonjak ke udara seperti ditarik dari bawah. Lalu… sesosok makhluk melayang, setengah terbakar. Wajahnya tak manusiawi, dengan rahang besar dan mata merah membara.

"Kaaaaalian… tak akan bisa mengusirku!" suaranya bergema dari segala arah.

Warga membaca doa keras-keras. Api makin membesar. Sosok itu menjerit, lalu meledak menjadi kabut hitam yang menghilang ke dalam tanah.

Kami semua terduduk. Lelah. Tapi entah kenapa… tenang. Seperti beban berat terangkat dari udara.

Damai yang Terlambat

Sejak hari itu, sungai kembali tenang. Tak ada korban jiwa lagi. Warga kembali percaya pada ritual lama. Mereka membersihkan sungai, menabur bunga dan garam tiap bulan purnama.

Aku kembali ke kota. Dan malam itu, aku bermimpi satu hal terakhir.

Dodi dan Rian berdiri di tepi sungai. Mereka tersenyum.

"Terima kasih, Dil. Kau sudah membebaskan kami."

Lalu mereka berjalan ke dalam kabut… dan menghilang.

Aku terbangun… dan sejak itu, mimpi burukku berhenti.

Tapi setiap kali aku mendengar suara air… aku masih bergidik.

Karena aku tahu… di Kalimantan, beberapa sungai… masih menyimpan rahasia lama.

Dan kadang, mereka… memanggil kembali.

Penutup

Kalau kau suatu hari datang ke Kalimantan, dan melihat sungai yang terlalu tenang di malam hari… jangan terlalu dekat.

Kalau kau dengar suara memanggil namamu dari arah air…

Jangan jawab. Jangan menoleh. Dan jangan pernah mandi malam.

Karena sungai itu mungkin masih lapar.

Dan penunggunya… belum kenyang.

(*)

penulis dari belantara borneo 

PANEN DOC AYAM KAMPUNG