![]() |
| Hantu kuyang, dipercaya eksis di beberapa daerah Kalimantan. (pixabai) |
Waktu
itu, aku memutuskan untuk ikut program relawan pendidikan di Kalimantan Timur,
tepatnya di sebuah desa terpencil bernama Sungai Belian. Nama desa itu tidak
banyak dikenal orang. Untuk mencapainya, aku harus menempuh perjalanan hampir
dua belas jam dari Samarinda, sebagian besar dengan perahu kecil menyusuri
sungai yang sepi dan berkelok.
Awalnya,
semua terasa menenangkan. Udara segar, suara hutan yang menyejukkan, serta
sambutan hangat dari warga desa membuatku betah. Mereka sangat menghargai
kedatangan orang luar, apalagi yang niatnya membantu pendidikan anak-anak
mereka.
Tapi
baru malam ketiga aku di sana, semua mulai terasa… ganjil.
Hari
itu aku menginap di rumah kepala desa, Pak Jamal, karena rumah guru yang
disiapkan masih direnovasi. Rumah Pak Jamal terbuat dari kayu ulin, berdiri di
tepi sungai dengan halaman belakang yang langsung berbatasan dengan semak
rimbun.
Saat
makan malam, aku melihat istrinya, Bu Erni, memasang benda aneh di tiap
jendela: bawang putih yang diikat dan beberapa potong kain merah.
Aku
pikir itu hanya tradisi. Tapi saat aku bertanya, Bu Erni hanya menjawab
singkat.
“Buat
jaga-jaga aja, Nak.”
Waktu
itu aku mengangguk saja. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi malamnya,
saat semua orang sudah tidur dan aku hampir terlelap, aku mendengar suara aneh.
Seperti suara desisan… panjang dan berat… bercampur suara angin yang menderu
lewat atap rumah.
Aku
kira hanya hewan malam.
Namun
tidak lama kemudian, aku mendengar suara bayi menangis.
Tangisnya
lirih, seperti dari kejauhan… lalu semakin dekat. Tangisan itu berhenti tepat
di luar jendela kamar tempatku tidur.
Aku
menahan napas. Aku yakin tidak ada bayi di rumah Pak Jamal. Anak-anak mereka
sudah besar. Jadi… siapa?
Aku
bangkit pelan dari tempat tidur, membuka sedikit celah tirai. Dan saat itulah
aku melihatnya. Sesuatu… melayang di luar jendela.
Sosok
kepala wanita, dengan rambut panjang terurai dan wajah pucat pasi. Tapi yang
membuatku hampir pingsan adalah… di bawah lehernya, menjuntai organ-organ
tubuh: usus, hati, paru-paru… semua menggantung dan mengeluarkan tetesan darah
ke tanah.
Aku
terpaku. Tak bisa bergerak. Tubuhku membeku. Makhluk itu—kuyang—mengelilingi
rumah perlahan, seperti sedang mencari celah.
Tiba-tiba
Bu Erni masuk ke kamarku dengan cepat, membawa sebotol minyak dan sebuah kain.
Dia
menarikku ke sudut kamar dan menyiramkan minyak itu ke sekeliling ruangan
sambil komat-kamit membaca doa.
“Jangan
keluar. Jangan lihat lagi. Dia bisa merasakan matamu,” bisiknya.
Aku
hanya bisa mengangguk, gemetar hebat.
Besok
paginya, aku duduk diam di beranda, masih syok.
Pak
Jamal mendekat dan duduk di sampingku.
“Kamu
lihat dia tadi malam ya?”
Aku
tidak menjawab, hanya menatapnya kosong.
Dia
menghela napas panjang.
“Sudah
lama dia tidak datang. Tapi belakangan ini, ada satu dua orang yang bilang
mendengar tangisan bayi di malam hari. Sepertinya dia kembali.”
“Kuyang
itu… apa benar?” akhirnya aku bertanya.
Pak
Jamal mengangguk.
“Dulu,
puluhan tahun lalu, ada perempuan yang tinggal di desa seberang. Dia belajar
ilmu hitam karena ingin tetap cantik dan awet muda. Tapi dia gagal. Malamnya,
tubuhnya ditemukan gosong, tapi kepalanya hilang. Setelah itu, teror kuyang
mulai muncul.”
Aku
hanya bisa menelan ludah.
“Waktu
itu, banyak bayi yang hilang dari kandungan ibunya. Ada yang keguguran, ada
yang perutnya seperti digigit makhluk buas. Sejak itu, semua ibu hamil dijaga
ketat di rumah adat. Tapi belakangan, sudah banyak yang lupa...”
Malam
berikutnya, aku ikut Pak Jamal dan warga ke rumah Bu Dina, salah satu warga
yang sedang hamil tujuh bulan. Mereka mulai melakukan penjagaan bergilir. Rumah
itu dijaga 24 jam.
Aku
ikut berjaga di malam hari bersama dua warga lainnya.
Sekitar
pukul dua dini hari, tiba-tiba kami mendengar suara anjing menggonggong keras
dari arah sungai. Disusul suara sayap mengepak… tapi bukan suara burung. Berat.
Lain.
Langit
gelap. Hanya ada cahaya dari lampu minyak.
Lalu...
terdengar suara tangis bayi lagi. Dari atap rumah.
Warga
langsung bersiaga. Mereka menyulut obor, membawa bawang putih, dan mulai
membaca doa keras-keras.
Dari
bayangan di langit, kami melihat sosok kuyang berputar-putar seperti kelelawar
besar. Tapi wujudnya jelas kepala wanita.
Salah
satu warga, Pak Sarman, melemparkan batu besar. Tapi makhluk itu hanya menghindar
dan tertawa melengking.
Tangis
bayi terdengar makin keras, disusul suara ketukan dari jendela kamar Bu Dina.
“Buka…
aku haus…”
Suaranya
seperti suara wanita, tapi serak dan bergema.
Untungnya
jendela sudah dipaku rapat. Makhluk itu mengitari rumah selama hampir satu jam.
Tapi akhirnya pergi, mungkin karena tidak menemukan celah.
Tapi
malam itu, kami semua tidak bisa tidur. Wajah-wajah ketakutan memenuhi rumah.
Tiga
hari setelah kejadian itu, kabar duka datang dari desa sebelah. Seorang ibu
yang baru saja melahirkan kehilangan bayinya di malam hari. Bayinya hilang
begitu saja, tanpa jejak. Di sekitar rumah, hanya ada tetesan darah dan bau
amis menyengat.
Warga
mulai resah. Kepala adat pun turun tangan. Mereka mengadakan ritual khusus:
pemanggilan roh leluhur untuk mencari tahu asal-usul kuyang yang kembali
meneror.
Aku
diperbolehkan melihat dari jauh. Di rumah adat yang luas, para tetua duduk
melingkar sambil membakar kemenyan dan membaca mantra. Beberapa membawa
sesajen, termasuk darah ayam, telur, dan air sungai.
Setelah
hampir satu jam, tiba-tiba salah satu tetua kerasukan.
Suara
lelaki tua itu berubah menjadi serak dan mengerikan.
“Dia
belum puas… dia belum kenyang… tubuhnya terikat di pohon tua di bukit barat…
kau harus temukan dan bakar tubuhnya… sebelum dia menyatu selamanya…”
Semua
orang hening.
Keesokan
harinya, kami pergi ke bukit barat desa. Tempat itu dikenal angker dan jarang
didatangi orang. Dikelilingi hutan lebat dan pohon besar yang berlumut.
Setelah
mencari hampir dua jam, kami menemukan sebuah pohon besar berlubang di bagian
tengah. Di dalamnya… ada sesuatu.
Tubuh
manusia… tapi hanya bagian badan. Kepala dan organ dalamnya tidak ada. Tubuh
itu dililit kain hitam, bau busuk menusuk hidung.
Tanpa
pikir panjang, para warga langsung membakar tubuh itu dengan kemenyan dan
minyak tanah.
Apinya
membara tinggi. Dari dalam kobaran api, terdengar suara jeritan melengking…
seperti jeritan perempuan yang kesakitan. Suara itu berlangsung hampir satu
menit, lalu hilang.
Hutan
kembali hening. Setelah hari itu, tidak ada lagi suara tangis bayi di malam
hari. Tidak ada lagi kuyang yang berputar di langit. Desa kembali tenang.
Tapi
aku… tidak pernah benar-benar tenang.
Sampai
sekarang, kadang aku masih bermimpi tentang malam itu. Tentang makhluk tanpa
tubuh dengan wajah putih pucat dan usus yang menggantung.
Aku
kembali ke kota setelah kontrak relawan selesai. Tapi kisah itu selalu terpatri
dalam ingatanku.
Kadang
aku bertanya pada diriku sendiri: apakah kuyang itu benar-benar makhluk gaib…
atau ada penjelasan ilmiah di baliknya?
Tapi
saat aku ingat suara tangis bayi yang menggema di tengah malam… aku tahu
jawabannya.
Beberapa
hal… memang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Dan
kuyang… adalah salah satunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar