Sabtu, 21 Juni 2025

Hantu Tanpa Kepala dari Hulu Belian: Jangan Tatap Matanya !!

Hantu kuyang, dipercaya eksis di beberapa daerah Kalimantan. (pixabai)


Namaku Rian, dan ini adalah kisah nyata yang tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Kejadian ini terjadi sekitar lima tahun lalu, saat aku baru saja lulus kuliah dan ingin mencari pengalaman hidup yang berbeda dari teman-teman seangkatanku.

Waktu itu, aku memutuskan untuk ikut program relawan pendidikan di Kalimantan Timur, tepatnya di sebuah desa terpencil bernama Sungai Belian. Nama desa itu tidak banyak dikenal orang. Untuk mencapainya, aku harus menempuh perjalanan hampir dua belas jam dari Samarinda, sebagian besar dengan perahu kecil menyusuri sungai yang sepi dan berkelok.

Awalnya, semua terasa menenangkan. Udara segar, suara hutan yang menyejukkan, serta sambutan hangat dari warga desa membuatku betah. Mereka sangat menghargai kedatangan orang luar, apalagi yang niatnya membantu pendidikan anak-anak mereka.

Tapi baru malam ketiga aku di sana, semua mulai terasa… ganjil.

Hari itu aku menginap di rumah kepala desa, Pak Jamal, karena rumah guru yang disiapkan masih direnovasi. Rumah Pak Jamal terbuat dari kayu ulin, berdiri di tepi sungai dengan halaman belakang yang langsung berbatasan dengan semak rimbun.

Saat makan malam, aku melihat istrinya, Bu Erni, memasang benda aneh di tiap jendela: bawang putih yang diikat dan beberapa potong kain merah.

Aku pikir itu hanya tradisi. Tapi saat aku bertanya, Bu Erni hanya menjawab singkat.

“Buat jaga-jaga aja, Nak.”

Waktu itu aku mengangguk saja. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi malamnya, saat semua orang sudah tidur dan aku hampir terlelap, aku mendengar suara aneh. Seperti suara desisan… panjang dan berat… bercampur suara angin yang menderu lewat atap rumah.

Aku kira hanya hewan malam.

Namun tidak lama kemudian, aku mendengar suara bayi menangis.

Tangisnya lirih, seperti dari kejauhan… lalu semakin dekat. Tangisan itu berhenti tepat di luar jendela kamar tempatku tidur.

Aku menahan napas. Aku yakin tidak ada bayi di rumah Pak Jamal. Anak-anak mereka sudah besar. Jadi… siapa?

Aku bangkit pelan dari tempat tidur, membuka sedikit celah tirai. Dan saat itulah aku melihatnya. Sesuatu… melayang di luar jendela.

Sosok kepala wanita, dengan rambut panjang terurai dan wajah pucat pasi. Tapi yang membuatku hampir pingsan adalah… di bawah lehernya, menjuntai organ-organ tubuh: usus, hati, paru-paru… semua menggantung dan mengeluarkan tetesan darah ke tanah.

Aku terpaku. Tak bisa bergerak. Tubuhku membeku. Makhluk itu—kuyang—mengelilingi rumah perlahan, seperti sedang mencari celah.

Tiba-tiba Bu Erni masuk ke kamarku dengan cepat, membawa sebotol minyak dan sebuah kain.

Dia menarikku ke sudut kamar dan menyiramkan minyak itu ke sekeliling ruangan sambil komat-kamit membaca doa.

“Jangan keluar. Jangan lihat lagi. Dia bisa merasakan matamu,” bisiknya.

Aku hanya bisa mengangguk, gemetar hebat.

Besok paginya, aku duduk diam di beranda, masih syok.

Pak Jamal mendekat dan duduk di sampingku.

“Kamu lihat dia tadi malam ya?”

Aku tidak menjawab, hanya menatapnya kosong.

Dia menghela napas panjang.

“Sudah lama dia tidak datang. Tapi belakangan ini, ada satu dua orang yang bilang mendengar tangisan bayi di malam hari. Sepertinya dia kembali.”

“Kuyang itu… apa benar?” akhirnya aku bertanya.

Pak Jamal mengangguk.

“Dulu, puluhan tahun lalu, ada perempuan yang tinggal di desa seberang. Dia belajar ilmu hitam karena ingin tetap cantik dan awet muda. Tapi dia gagal. Malamnya, tubuhnya ditemukan gosong, tapi kepalanya hilang. Setelah itu, teror kuyang mulai muncul.”

Aku hanya bisa menelan ludah.

“Waktu itu, banyak bayi yang hilang dari kandungan ibunya. Ada yang keguguran, ada yang perutnya seperti digigit makhluk buas. Sejak itu, semua ibu hamil dijaga ketat di rumah adat. Tapi belakangan, sudah banyak yang lupa...”

Malam berikutnya, aku ikut Pak Jamal dan warga ke rumah Bu Dina, salah satu warga yang sedang hamil tujuh bulan. Mereka mulai melakukan penjagaan bergilir. Rumah itu dijaga 24 jam.

Aku ikut berjaga di malam hari bersama dua warga lainnya.

Sekitar pukul dua dini hari, tiba-tiba kami mendengar suara anjing menggonggong keras dari arah sungai. Disusul suara sayap mengepak… tapi bukan suara burung. Berat. Lain.

Langit gelap. Hanya ada cahaya dari lampu minyak.

Lalu... terdengar suara tangis bayi lagi. Dari atap rumah.

Warga langsung bersiaga. Mereka menyulut obor, membawa bawang putih, dan mulai membaca doa keras-keras.

Dari bayangan di langit, kami melihat sosok kuyang berputar-putar seperti kelelawar besar. Tapi wujudnya jelas kepala wanita.

Salah satu warga, Pak Sarman, melemparkan batu besar. Tapi makhluk itu hanya menghindar dan tertawa melengking.

Tangis bayi terdengar makin keras, disusul suara ketukan dari jendela kamar Bu Dina.

“Buka… aku haus…”

Suaranya seperti suara wanita, tapi serak dan bergema.

Untungnya jendela sudah dipaku rapat. Makhluk itu mengitari rumah selama hampir satu jam. Tapi akhirnya pergi, mungkin karena tidak menemukan celah.

Tapi malam itu, kami semua tidak bisa tidur. Wajah-wajah ketakutan memenuhi rumah.

Tiga hari setelah kejadian itu, kabar duka datang dari desa sebelah. Seorang ibu yang baru saja melahirkan kehilangan bayinya di malam hari. Bayinya hilang begitu saja, tanpa jejak. Di sekitar rumah, hanya ada tetesan darah dan bau amis menyengat.

Warga mulai resah. Kepala adat pun turun tangan. Mereka mengadakan ritual khusus: pemanggilan roh leluhur untuk mencari tahu asal-usul kuyang yang kembali meneror.

Aku diperbolehkan melihat dari jauh. Di rumah adat yang luas, para tetua duduk melingkar sambil membakar kemenyan dan membaca mantra. Beberapa membawa sesajen, termasuk darah ayam, telur, dan air sungai.

Setelah hampir satu jam, tiba-tiba salah satu tetua kerasukan.

Suara lelaki tua itu berubah menjadi serak dan mengerikan.

“Dia belum puas… dia belum kenyang… tubuhnya terikat di pohon tua di bukit barat… kau harus temukan dan bakar tubuhnya… sebelum dia menyatu selamanya…”

Semua orang hening.

Keesokan harinya, kami pergi ke bukit barat desa. Tempat itu dikenal angker dan jarang didatangi orang. Dikelilingi hutan lebat dan pohon besar yang berlumut.

Setelah mencari hampir dua jam, kami menemukan sebuah pohon besar berlubang di bagian tengah. Di dalamnya… ada sesuatu.

Tubuh manusia… tapi hanya bagian badan. Kepala dan organ dalamnya tidak ada. Tubuh itu dililit kain hitam, bau busuk menusuk hidung.

Tanpa pikir panjang, para warga langsung membakar tubuh itu dengan kemenyan dan minyak tanah.

Apinya membara tinggi. Dari dalam kobaran api, terdengar suara jeritan melengking… seperti jeritan perempuan yang kesakitan. Suara itu berlangsung hampir satu menit, lalu hilang.

Hutan kembali hening. Setelah hari itu, tidak ada lagi suara tangis bayi di malam hari. Tidak ada lagi kuyang yang berputar di langit. Desa kembali tenang.

Tapi aku… tidak pernah benar-benar tenang.

Sampai sekarang, kadang aku masih bermimpi tentang malam itu. Tentang makhluk tanpa tubuh dengan wajah putih pucat dan usus yang menggantung.

Aku kembali ke kota setelah kontrak relawan selesai. Tapi kisah itu selalu terpatri dalam ingatanku.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: apakah kuyang itu benar-benar makhluk gaib… atau ada penjelasan ilmiah di baliknya?

Tapi saat aku ingat suara tangis bayi yang menggema di tengah malam… aku tahu jawabannya.

Beberapa hal… memang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Dan kuyang… adalah salah satunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANEN DOC AYAM KAMPUNG