Rabu, 18 Juni 2025

"Yang Tenggelam Tak Pernah Diam", Sang Arwah Sungai yang Haus Darah!!

ular raksasa yang dipercaya sebagai arwah penunggu sungai Kalimantan (pixabay/ilustrasi)

NAMAKU Fadil. Tahun ini usiaku 31 tahun, dan aku bersumpah demi Tuhan, apa yang kutulis ini bukan rekaan. Kejadian ini terjadi tujuh tahun lalu, saat aku masih menjadi pekerja lapangan di sebuah proyek pembangunan jembatan di pedalaman Kalimantan Timur—di daerah yang disebut warga sebagai Sungai Tujuh.

Sungai itu panjang dan lebar, mengalir membelah hutan yang masih perawan. Airnya tenang, nyaris tidak bersuara, seolah menyembunyikan sesuatu di balik ketenangannya. Warga desa sekitar menyebutnya “Sungai yang Memanggil.” Kata mereka, kalau kau duduk sendirian di tepian dan mendengar namamu dipanggil dari arah air, jangan dijawab. Jangan menoleh.

Awalnya aku tak percaya.

Aku datang bersama empat rekan: Dodi, Rian, Togar, dan satu mandor lokal bernama Pak Darius. Kami tinggal di rumah panggung yang disewa dari warga. Setiap pagi kami menyusuri hutan untuk meninjau lokasi proyek, dan sore hari kembali dengan tubuh penuh lumpur.

Hari-hari pertama terasa biasa saja. Sampai malam keempat, saat Dodi menghilang.

Malam yang Aneh

Waktu itu sudah hampir tengah malam. Kami sedang duduk di beranda rumah, minum kopi sambil mengobrol. Dodi pamit turun ke sungai untuk mencuci kaki.

"Lima menit aja," katanya. "Badan gerah banget."

Aku sempat menegur, “Udah malem, Dod. Mending besok pagi aja.”

Tapi dia hanya tertawa kecil. "Airnya dingin, bro. Biar segar dikit."

Dodi turun dengan senter kecil. Kami terus mengobrol, sampai sadar… dia tak kembali.

Sepuluh menit. Dua puluh menit. Lalu setengah jam. Kami mulai gelisah.

Aku dan Togar turun ke sungai, memanggil-manggil namanya.

“Dod! Woi, Dodi!”

Tak ada sahutan. Senter yang ia bawa pun tak terlihat.

Kami terus menelusuri pinggiran sungai, hingga Pak Darius datang tergesa-gesa membawa lampu petromak.

“Dia nyemplung?” tanyanya cepat.

“Enggak tahu. Dia cuma mau cuci kaki,” jawabku, mulai panik.

Kami menyisir pinggiran sungai. Lampu petromak menyorot air yang tenang… terlalu tenang. Tak ada gelembung. Tak ada riak. Seperti kaca hitam pekat.

Lalu… terdengar suara.

“Doooood…”

Aku menoleh cepat ke arah hutan. Suara itu… seperti suara Dodi. Tapi serak. Panjang. Menggema. Dan seperti datang dari air.

Pak Darius mencengkeram lenganku. “Jangan jawab. Ayo balik ke rumah. Cepat!”

“Dia Sudah Diambil”

Di rumah, kami duduk pucat pasi. Tak ada yang bicara selama hampir satu jam.

Akhirnya Pak Darius angkat suara.

“Kalian tahu kenapa orang sini nggak mandi malam di sungai?”

Kami menggeleng.

“Karena sungai ini dijaga,” katanya pelan. “Penunggunya nggak suka kalau malam diganggu. Apalagi kalau orang asing.”

Kami masih mencoba berpikir rasional. Tapi bagaimana menjelaskan suara Dodi? Kenapa ia tak kembali? Tidak ada jejak, tidak ada suara percikan, tidak ada jeritan. Hanya… hilang.

“Mungkin dia terpeleset…” Rian mencoba menjelaskan.

“Tapi pasti ada suara!” bentak Togar. “Dia nggak mungkin hilang gitu aja!”

Pak Darius lalu bercerita. Dulu, katanya, sungai itu dipakai warga sebagai tempat ritual persembahan. Setiap tahun, mereka melempar sesajen—ayam hitam, telur, dan minyak wangi—ke tengah arus untuk menjaga ketenangan roh penjaga sungai.

“Tapi makin ke sini, orang makin lupa. Termasuk kepala desa sekarang,” ucapnya lirih. “Dan penunggu itu… mulai marah.”

Pencarian yang Sia-Sia

Esoknya, warga dan kami menyisir sungai sejak pagi. Kami pakai perahu kecil, menyusuri tiap sudut, membalik semak, mencari jejak Dodi.

Tak ada apa-apa. Sungai itu tetap diam. Seolah menelan Dodi dan merahasiakannya.

Tapi satu hal yang aneh… di dekat akar pohon beringin besar, kami menemukan senter Dodi. Tergeletak menyala, lampunya redup… menghadap ke air.

Dan di sekitar itu, tanahnya becek… tapi tak ada jejak kaki sama sekali. Hanya jejak seperti… seretan ekor panjang.

Pak Darius langsung gemetar. “Itu jejaknya…”

“Apa maksudnya?” tanyaku.

“Siluman ular air… dia penjaga sungai ini. Kalau lapar, dia memanggil. Dan kalau dijawab… dia menelan.”

Wujudnya Menampakkan Diri

Tiga malam setelah hilangnya Dodi, kami sepakat untuk segera pulang. Tapi malam sebelum keberangkatan, kejadian paling mengerikan terjadi.

Aku terbangun karena mendengar suara air berkecipak keras.

Seperti ada sesuatu yang sangat besar bergerak di sungai.

Aku bangkit, mengintip dari celah jendela.

Apa yang kulihat membuat jantungku seperti berhenti berdetak.

Sosok raksasa menjulang dari air. Berbentuk seperti ular, namun bersisik besar kehitaman. Kepala makhluk itu seperti buaya tua—matanya merah menyala, dan giginya… panjang, mengerikan. Di punggungnya tumbuh tonjolan seperti duri.

Ia melata di atas permukaan sungai dengan perlahan… matanya menatap ke arah rumah kami.

Tiba-tiba suara seperti erangan muncul dari mulutnya. Berat. Dalam. Seolah dari dasar bumi.

“Aaaaangg… kaaamuuu… belum… pulang…”

Itu… suara Dodi. Tapi dari dalam mulut makhluk itu.

Aku menjerit dan langsung terjatuh.

Pak Darius masuk dan menutup semua jendela.

“Jangan lihat dia. Jangan! Dia tahu kamu yang melihat!”

Korban Kedua

Kami memutuskan untuk pergi besok pagi. Tapi malam itu… Rian keluar sendirian. Ia bilang tak kuat menahan rasa bersalah.

“Saya harus cari Dodi! Mungkin dia masih bisa diselamatkan!”

Kami mencoba menahan, tapi dia nekat lari ke arah sungai.

Sepuluh menit… dua puluh… lalu terdengar teriakan panjang, seperti orang dicekik.

Kami lari menyusul, tapi sudah terlambat.

Di tepi sungai… hanya ada pakaian Rian yang tergeletak. Dan ceceran darah.

Air sungai beriak kecil, seolah baru saja ada yang masuk… atau keluar.

Pulang yang Tak Pernah Sama

Keesokan harinya kami pulang, hanya bertiga.

Saat perahu menjauh dari desa, aku menatap ke belakang. Kabut turun tipis di atas sungai. Dan samar… aku melihat sesuatu berdiri di bawah pohon beringin besar.

Tinggi. Hitam. Berkilau seperti basah. Menatap kami dengan mata merah menyala.

Aku tahu… dia melihatku.

Sejak hari itu, hidupku tak pernah sama. Aku sering mimpi buruk—tentang sungai yang memanggil, tentang mata yang mengintai dari air.

Kadang, saat mandi malam, aku merasa air di kamar mandi bergolak sendiri.

Aku masih ingat wajah Dodi dan Rian. Aku tak bisa lupa.

Dan tiap aku mendengar suara air malam-malam, hatiku langsung dingin.

                                           ***

Suara dari Dalam Mimpi

Setelah kembali ke kota, aku berusaha hidup normal. Tapi malam-malamku tak lagi damai. Hampir setiap tidurku disiksa mimpi buruk. Aku melihat Dodi berjalan di sungai yang hitam dan pekat. Ia memanggil namaku dengan suara bergetar dan tubuh yang separuh terendam lumpur.

"Fadil… tolong aku… masih ada waktu…"

Kadang Rian muncul juga, duduk di tepi sungai dengan wajah penuh lumpur dan darah. Matanya kosong, tapi bibirnya bergerak.

"Sungai itu belum selesai denganmu."

Aku mulai takut tidur. Aku pasang lampu sepanjang malam, tapi tak banyak membantu. Di kamar kosku yang sempit, aku kadang mendengar suara tetesan air... padahal kamar mandi kering. Atau suara kecipak dari jendela, meski kamarku di lantai dua.

Aku pergi ke ustaz, ke psikolog, bahkan ke pendeta teman sekantor. Semua menyebut satu hal: traumamu dalam. Tapi aku tahu, ini lebih dari sekadar trauma.

Suatu malam, aku bangun dengan keringat dingin. Ada lumpur di ujung kakiku. Padahal aku belum keluar rumah. Aku semakin yakin, ada sesuatu yang mengikutiku dari sungai itu.

Kembali ke Sungai

Setahun kemudian, aku menerima kabar dari Pak Darius. Lewat pesan singkat ia menulis:

“Sungai memakan dua orang lagi. Mereka mandi malam. Kami butuh kamu kembali. Roh mereka belum tenang.”

Aku ragu. Tapi ada bagian dalam diriku yang merasa ini belum selesai. Aku harus kembali. Untuk Dodi. Untuk Rian. Dan untuk diriku sendiri.

Aku izin cuti dua minggu, dan kembali ke Kalimantan. Pak Darius menjemputku di dermaga. Ia tampak lebih tua dari terakhir kulihat, dengan mata lelah dan rambut beruban.

Kami kembali ke desa. Warga menyambutku diam-diam. Sebagian menatapku dengan iba, sebagian lagi dengan takut. Mereka bilang aku "Orang yang Pernah Dipanggil"—dan bisa jadi satu-satunya yang masih selamat.

Malam pertama aku menginap di rumah kepala adat. Kami melakukan ritual kecil: menabur garam dan membakar kemenyan di tepi sungai. Suara air tetap tenang, tapi hawa malam itu aneh. Dingin… seperti bukan dari dunia ini.

Di kejauhan, terdengar suara erangan pelan. Seperti hewan sekarat… atau seseorang yang ditahan untuk berteriak.

Penampakan Kembali

Malam ketiga, aku bermimpi Dodi lagi. Tapi kali ini, ia tidak tenggelam. Ia berdiri di atas sungai, menunjuk ke arah sebuah pohon beringin besar.

"Dia disegel di bawah akar itu. Kau harus bebaskan aku, Fadil. Bakar tubuhnya."

Aku terbangun dengan tubuh menggigil. Pak Darius langsung mendatangiku.

"Kau bermimpi lagi, ya?"

Aku mengangguk pelan.

Keesokan harinya, kami menuju pohon beringin itu. Kami membawa tiga warga dan seorang dukun tua yang didatangkan dari desa sebelah. Di bawah akar besar, kami mulai menggali.

Setelah hampir dua jam, kami menemukan peti kayu lapuk. Saat dibuka, bau busuk langsung menyeruak. Di dalamnya… tubuh manusia membusuk, dengan sisik menempel di kulitnya. Kepalanya tak ada. Di dadanya, tertancap paku besi.

"Itu penunggunya… dijebak oleh leluhur kami puluhan tahun lalu," kata dukun tua. "Tapi dia tak pernah mati. Ia hanya tidur. Dan setiap kali sungai terkotori atau dilupakan… ia bangun lagi."

Kami membakar tubuh itu dengan minyak dan dupa. Saat api menyala tinggi, terdengar jeritan dari arah sungai. Sungai yang tenang itu… tiba-tiba bergolak.

Air melonjak ke udara seperti ditarik dari bawah. Lalu… sesosok makhluk melayang, setengah terbakar. Wajahnya tak manusiawi, dengan rahang besar dan mata merah membara.

"Kaaaaalian… tak akan bisa mengusirku!" suaranya bergema dari segala arah.

Warga membaca doa keras-keras. Api makin membesar. Sosok itu menjerit, lalu meledak menjadi kabut hitam yang menghilang ke dalam tanah.

Kami semua terduduk. Lelah. Tapi entah kenapa… tenang. Seperti beban berat terangkat dari udara.

Damai yang Terlambat

Sejak hari itu, sungai kembali tenang. Tak ada korban jiwa lagi. Warga kembali percaya pada ritual lama. Mereka membersihkan sungai, menabur bunga dan garam tiap bulan purnama.

Aku kembali ke kota. Dan malam itu, aku bermimpi satu hal terakhir.

Dodi dan Rian berdiri di tepi sungai. Mereka tersenyum.

"Terima kasih, Dil. Kau sudah membebaskan kami."

Lalu mereka berjalan ke dalam kabut… dan menghilang.

Aku terbangun… dan sejak itu, mimpi burukku berhenti.

Tapi setiap kali aku mendengar suara air… aku masih bergidik.

Karena aku tahu… di Kalimantan, beberapa sungai… masih menyimpan rahasia lama.

Dan kadang, mereka… memanggil kembali.

Penutup

Kalau kau suatu hari datang ke Kalimantan, dan melihat sungai yang terlalu tenang di malam hari… jangan terlalu dekat.

Kalau kau dengar suara memanggil namamu dari arah air…

Jangan jawab. Jangan menoleh. Dan jangan pernah mandi malam.

Karena sungai itu mungkin masih lapar.

Dan penunggunya… belum kenyang.

(*)

penulis dari belantara borneo 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANEN DOC AYAM KAMPUNG